POTENSI PEMANFAATAN EKONOMI SATWA LIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA

 Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                                                              Medan  Mei 2021

POTENSI PEMANFAATAN EKONOMI SATWA LIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :

Ratna Fadilah

191201058

HUT 4C

 

 

 



 

 

 


PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERAA UTARA

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan baik dan tepat waktu. Paper ini berjudul “Potensi Pemanfaatan Ekonomi Satwa Liar Untuk Pengembangan Ekowisata” paper ini disusun sebagai salah satu syarat dalam mengikuti mata kuliah ekonomi Sumberdaya Hutan pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua teman-teman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.

Penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan paper ini. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.

 

 

                                                                                                                                         Medan,    Mei  2021

 

 

                                                                                 Penulis     

 

 


DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR.................................................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang................................................................................................................. 1


1.2  Tujuan Penulisan.............................................................................................................. 2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Ekowisata Satwa Liar....................................................................................................... 3

2.2  Jenis-Jenis Satwa Liar Berpotensi untuk Pengembangan Ekowisata................................3

2.3  Peranan Satwa Liar Bagi Ekologi dan Kehidupan Manusia............................................. 5

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan....................................................................................................................... 7

3.2 Saran................................................................................................................................. 7

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekowisata merupakan konsep operasional dari konsep pembangunan berkelanjutan, yang merupakan kegiatan konservasi yang dapat menjembatani kepentingan pemerintah dalam hal konservasi dan kepentingan masyarakat lokal dalam hal pengembangan ekonomi. Ekowisata adalah perpaduan antara konservasi dan pariwisata dimana pendapatan yang diperoleh dari pariwisata seharusnya dikembalikan kepada kawasan untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta perbaikan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ekowisata harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, melibatkan secara aktif masyarakat lokal dan budayanya, mempromosikan pendidikan lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi pengelolaan taman nasional dan masyarakat sekitarnya (Sekatjakrarini, 2004; Ceballos-Lascurain, 1996; Boo, 1990).

Sumberdaya alam yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai objek ekowisata, salah satunya adalah satwaliar karena mempunyai peranan yang unik dalam. Peranan satwa liar dalam ekosistem antara lain: berperan dalam proses ekologi (sebagai penyeimbang rantai makanan dalam ekosistem), membantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara posisi benang sari dan putik, sebagai predator hama (serangga, tikus, dsb), penyebar/agen bagi beberapa jenis tumbuhan dalam mendistribusikan bijinya. Selain memiliki nilai penting di dalam ekosistem, satwaliarpun bermanfaat bagi manusia, antara lain sebagai bahan penelitian, pendidikan lingkungan, dan objek wisata (ekoturism), sebagai sumber protein yang berasal dari daging dan telurnya memiliki nilai estetika, diantaranya warna bulunya yang indah, suaranya yang merdu, tingkahnya yang atraktif sehingga banyak dijadikan objek dalam lukisan, atau sebagai inspirasi dalam pembuatan lagu maupun puisi, memiliki nilai ekonomi (Achmad. 2010).

Tidak hanya tumbuhan, satwaliar juga telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan oleh etnis-etnis di dunia sejak dulu. Pemanfaatan tersebut ditujukan untuk berbagai keperluan. Ada satwa yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi subsisten, dijual (sebagian atau seluruh tubuh), digunakan sebagai obat (penyembuh) penyakit tertentu, atau untuk keperluan adat istiadat kepada masyarakat setempat. Dalam beberapa prasayarat, seringkali hubungan satwa liar dengan kondisi sosial masyarakat diukur halnya dengan menghitung jumlah pemanfaatan satwa liar oleh masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan, pada umumnya pada etnis masyarakat tertentu, spesies satwa dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan sosial dan budaya (Budiman et al., 2018).

Dari beberapa bentuk pemanfaatan dan beragamnya spesies satwaliar yang dimanfaatkan oleh etnis masyarakat membuktikan bahwa manusia dan satwa memiliki hubungan khusus dan penting. Disebut penting karena umumnya satwa digunakan sebagai bahan makanan (lauk pauk) bagi masyarakat. Pada Orang Rimba di Jambi misalnya, satwaliar merupakan salah satu makanan pendamping utama dari sumber karbohidrat yang disebut ‘louk’. Namun hubungan yang erat dan penting tersebut seringkali tidak disadari sehingga muncul kekuatiran di masa yang akan datang, kita kehilangan pengetahuan dan kearifan tradisional dalam pemanfaatan satwa (Aritonang, 2014).

Salah satu prinsip pengembangan ekowisata adalah memenuhi aspek pendidikan, yakni kegiatan pariwisata yang dilakukan sebaiknya memberikan unsur pendidikan. Ini bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan memberikan informasi menarik seperti nama dan manfaat satwa yang ada di sekitar daerah wisata, yakni manfaat ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Kegiatan pendidikan bagi wisatawan ini akan mendorong upaya pelestarian alam dan budaya, dimana kegiatan ini dapat didukung oleh alat bantu seperti brosur, leaflet, buklet atau papan informasi. Berdasarkan uraian tersebut di atas, dipandang perlu untuk melakukan suatu penelitian tentang keanekaragaman satwaliar untuk mengetahui potensinya (Atmoko, 2010).

1.2  Tujuan Penulisan

            Adapun tujuan punulisan dari paper yang berjudul “Potensi Ekonomi Satwa Liar Untuk Pengembangan Ekowisata” adalah untuk mengetahui potensi ekonomi satwa liar untuk pengembangan Ekowisata dengan tetap menjaga kelestariannya.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ekowisata Satwa Liar

            Ekowisata satwa liar adalah suatu kegiatan untuk menikmati satwa liar sebagai obyek dan daya tarik ekowisata. Sebagai obyek, satwa liar hanya dapat menjadi atraksi bila kita mengetahui kapan waktu yang pas untuk melihatnya di alam. Jika ingin melihat banteng di padang penggembalaan, tentunya kita harus memelajari kapan banteng itu merumput dengan nyaman. Begitu juga jika ingin melihat badak jawa berkubang. Untuk melihat mamalia di Taman Nasional Bali Barat, saat paling mudah adalah pada musim kering. Pada masa tersebut, satwa akan terkonsentrasi pada lokasi-lokasi yang terdapat sumber air minum.

Interpretasi juga diperlukan dalam tata kelola ekowisata satwa liar. Ini diperlakukan karena satwa tidak akan pernah bisa berbicara dengan manusia. Gajah-gajah di Tangkahan, walaupun sudah terlatih, aktivitas hariannya juga tetap harus dilakukan sebelum melayani pengunjung. Gajah diinterpretasikan akan melakukan ritual harian, seperti menuju pinggir sungai, kemudian membuang kotorannya. Berikutnya, gajah-gajah itu akan masuk ke sungai dan bermain-main dengan kawanannya. Setelah itu, baru gajah mau diajak berinteraksi dengan pengunjung, mulai dari dimandikan, diberi makan, foto bersama dan dinaiki untuk berjalan-jalan.

Perlu juga direnungkan tentang lambatnya perkembangan ilmu-ilmu yang mendasari tentang ekowisata satwa liar dengan ilmu terapannya, termasuk ilmu ekonomi, institusi, dan politik. Pengembangan ilmu dasar dengan terapan ini menjadi dasar pengembangan konsep–konsep governance secara umum. Hal ini yang terjadi dengan ekowisata satwa liar.

 

2.2 Jenis Satwa Liar yang Berpotensi untuk Pengembangan Ekowisata

            Menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya satwa liar merupakan semua binatang yang hidup di darat, di air dan di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Indonesia memiliki ragam destinasi untuk wisata alam liar. Destinasi yang telah berkembang antara lain Nusa Tenggara untuk objek hidupan liar Komodo, Ujung Kulon untuk Badak, Sumatera dan Kalimantan untuk orangutan; terdapat juga Gajah Sumatera. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) termasuk satwa langka yang secara ketat dilindungi. Gajah termasuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Dunia (RedList IUCN; International Union for Conservation of Nature) dengan kriteria sangat terancam (Critically Endangered A2c). Selama 25 tahun terakhir, 69% habitat Gajah Sumatera di Sumatera telah hilang (Gopala et al., 2011). Estimasi pada tahun 2007 memperkirakan jumlah Gajah sebanyak 2400-2800 ekor, namun pada tahun 2013 tersisa sebanyak 1970 ekor. Selama 2012-2016 jumlahnya bahkan berkurang, setidaknya 150 Gajah terbunuh akibat konflik atau perburuan (Wahyudi, 2016; WWF Indonesia, 2017).

Kepedulian Indonesia untuk jenis mamalia megaherbivora ini di antaranya dengan menyediakan Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang didirikan sejak tahun 1985 di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Propinsi Lampung. Sulit untuk dipungkiri bahwa kelangkaan menjadi daya tarik utama dalam segmentasi wisata alam liar. Pengelola PKG selama ini telah membuka kesempatan berkunjung untuk wisatawan lokal dan mancanegara yang secara eksklusif ingin mengapresiasikan kepedulian dan minat konservasi untuk Gajah Sumatera. PKG saat ini memiliki 65 ekor Gajah yang telah dijinakkan. Kecerdasan dan sifat bersahabat satwa ini menciptakan atraksi utama untuk wisata alam liar, yaitu dalam bentuk gajah tunggangan atau atraksi bermain bola. Kekuatiran tentang wisata alam liar sekedar sebagai alat neoliberal konservasi cenderung bersumber dari model wisata ini. Dihipotesakan bahwa terdapat potensipotensi lain dalam upaya pengayaan dan pengembangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh bentuk strategi pengembangan PKG sebagai destinasi wisata alam liar yang memberi kepuasan lebih kepada pengunjung dan mengedepankan.

Orang utan (Pongo pygmaeus) adalah satwa langka yang dilindungi dengan penyebaran yang sangat terbatas di Sumatera dan Kalimantan. Dengan terbatasnya habitat dan populasi orang utan yang termasuk dalam kawasan konservasi, terjadinya degradasi hutan yang berdampak penting bagi habitat dan populasi, maka kawasan hutan di luar kawasan konservasi menjadi penting untuk pelestarian orang utan. Dalam hal ini hutan produksi telah diketahui sebagai ekosistem  esensial untuk tujuan pelestarian. Populasi orang utan (Pongo pygmaeus) hanya terdapat di hutan Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 1987, populasi orang utan diperkirakan 4.000-180.000 individu, dan antara tahun 1996-97 terjadi penurunan populasi sebesar 12% dari perki- raan populasi total 4075 individu dan pada tahun 90-an kehilangan habitat orang utan di Kalimantan Timur telah mencapai 56%.

 

2.3 Peranan Satwa Liar Bagi Ekologi dan Kehidupan Manusia

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kegiatan ekowisata telah menjadi salah satu sasaran pembangunan untuk memanfaatkan sumberdaya hutan yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan, serta sekaligus meningkatkan peranan masyarakat dalam melakukan konservasi sumberdaya hutan. Kegiatan ekowisata ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan pendapatan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Sumberdaya alam yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai objek ekowisata, salah satunya adalah satwaliar karena mempunyai peranan yang unik dalam ekosistem

Peranan satwa liar dalam ekosistem antara lain berperan dalam proses ekologi (sebagai penyeimbang rantai makanan dalam ekosistem), membantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara posisi benang sari dan putik, sebagai predator hama (serangga, tikus, dan sebagainya), penyebar/agen bagi beberapa jenis tumbuhan dalam mendistribusikan bijinya. Selain memiliki nilai penting di dalam ekosistem, satwaliarpun bermanfaat bagi manusia, antara lain sebagai bahan penelitian, pendidikan lingkungan, dan objek wisata (ekoturism), sebagai sumber protein yang berasal dari daging dan telurnya memiliki nilai estetika, diantaranya warna bulunya yang indah, suaranya yang merdu, tingkahnya yang atraktif sehingga banyak dijadikan objek dalam lukisan, atau sebagai inspirasi dalam pembuatan lagu maupun puisi,  memiliki nilai ekonomi.

Fungsi orangutan bagi hutan dan manusia, orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi disebut umbrella species karena memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan (seed disperser).Hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagai macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Keterkaitannya orangutan dengan manusia antara lain karena orangutan melindungi manusia dari penyakit yang ada di dalam hutan. Manusia sangat bergantung terhadap hutan seperti halnya orangutan yaitu sumber air, pangan dan udara yang bersih. Selain juga manusia memerlukan sumber ilmu pengetahuan, rekreasi dan mata pencaharian Pariwisata, orangutan dan hutan yang bagus mendatangkan wisatawan. Dampak pariwisata bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Saat ini orangutan di ambang kepunahan, diperkirakan orangutan akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah di alam liar. Penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat dan perdagangan hewan. Kebakaran merupakan salah satu penyebab punahnya orangutan. Karena disamping mereka menjadi korban kebakaran, juga karena habitat mereka telah musnah hingga makanan sulit didapat. Perkelahian yang terjadi antar pejantan karena perebutan areal akibat penyempitan wilayah sebagai dampak dari kerusakan hutan.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Indonesia memiliki ragam destinasi untuk wisata alam liar. Destinasi yang telah berkembang antara lain Nusa Tenggara untuk objek hidupan liar Komodo, Ujung Kulon untuk Badak, Sumatera dan Kalimantan untuk orangutan; terdapat juga Gajah Sumatera. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) termasuk satwa langka yang secara ketat dilindungi. Diketahui bahwa satwa liar yang langka dan dilindungi banyak diminati oleh pengunjung lokal maupun pengunjung mancanegara sehingga menunjukkan bahwa ekowisata satwa liar sebagai wisata yang menyenangkan sekaligus sumber sarana pendidikan.

            Potensi ekonomi jangka panjang satwa liar adalah dengan melakukan konservasi untuk menjaga kelestariannya dan juga membuka peluang masyarakat lokal dalam hal pengembangan ekonomi.

 

3.2 Saran

            Dalam pelaksanaannya, kegiatan ekowisata harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, melibatkan secara aktif masyarakat lokal dan budayanya, mempromosikan pendidikan lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi pengelolaan taman nasional dan masyarakat sekitarnya.

            Perlu juga direnungkan tentang lambatnya perkembangan ilmu-ilmu yang mendasari tentang ekowisata satwa liar dengan ilmu terapannya, termasuk ilmu ekonomi, institusi, dan politik.

            




DAFTAR PUSTAKA



Achmad, A dan D. Nurdin, (2010). Potensi dan Kebijakan Pengelolaan Satwa Liar di Hutan Pendidikan Unhas. Prosiding Hasil-Hasil Litbang Mendukung Rehabilitasi dan Konservasi Hutan Untuk Kesejahteraan Masyarakat. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi.

Achmad A, Putu ON, Anwar U, Asrianny. 2013. Potensi Keanekaragaman Satwaliar Untuk Pengembangan Ekowisata di Laboratorium Lapangan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 2(2): 79 – 92.

Atmoko T.2010. Strategi pengembangan ekowisata pada habitat bekantan (Nasalis larvatus wurmb.) di Kuala Samboja, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 7(4), 425- 437.

Bismark M. 2015. Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur, Jurnal Plasma Nutfah, 11(2):74-82.

Budiman MAK, Christian Y. 2018. Struktur Pemanfaatan Keragaman Hayati Satwa Liar Oleh Masyarakat Di Kawasan Pesisir Distrik Tomu Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat. Coastal And Ocean Journal, 4(2):95–110.

Novriyanti. 2019. Pemanfaatan Satwaliar oleh Masyarakat Sekitar Hutan Desa Beringin Tinggi, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Jurnal Sylva Tropika, 3(2): 142-150.

Sekartjakrarini, S., N. K. Legoh. 2004. Rencana Strategis Ekowisata Nasional. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Jakarta.

Winarno GD, Arief D, Indra GF. 2017. Potensi Pengembangan Ekowisata Gajah   Di Pusat Konservasi Gajah, Taman Nasional Way Kambas, Lampung      (Potential Development of Elephant Ecotourism on Elephant          Conservation Center InWay Kambas National Park, Lampung).

 

 

 

 

Komentar